Bitget App
Trading lebih cerdas
Beli kriptoPasarTradingFuturesStocksEarnInstitusiAI & Lainnya
Tahan Kebocoran Devisa Rp 150 Triliun, Kemenkes Undang Dokter Asing ke KEK

Tahan Kebocoran Devisa Rp 150 Triliun, Kemenkes Undang Dokter Asing ke KEK

Liputan6Liputan62026/10/21 07:12
Oleh:Liputan6
Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono dalam konferensi pers Rakernas KEK Triwulan III 2026 di Jakarta, Rabu (21/10/2026). (Liputan6.com/Immanuel C)

Liputan6.com, Jakarta -
Kementerian Kesehatan mendorong pembangunan fasilitas kesehatan berstandar internasional di Kawasan Ekonomi Khusus ( KEK). Langkah ini disiapkan untuk menekan tingginya pengeluaran masyarakat Indonesia yang memilih berobat ke luar negeri, yang diperkirakan mencapai Rp 150 triliun per tahun.

"Kita akan fasilitasi di KEK, dengan mendatangkan fasilitas yang bertaraf internasional," ujar Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono dalam konferensi pers Rakernas KEK Triwulan III 2026 di Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Dante menjelaskan bahwa pengembangan KEK kesehatan juga ditargetkan untuk menarik investor memproduksi alat kesehatan dan obat-obatan yang selama ini belum bisa dibuat di dalam negeri. Kehadiran investor ini diharapkan mampu memperkuat kemandirian industri kesehatan nasional sekaligus mengikis ketergantungan pada produk impor.

"Untuk alat kesehatan dan obat-obat yang tidak bisa diproduksi sebelumnya di dalam negeri, kita undang investor untuk masuk di KEK dan bisa memproduksi alat kesehatan dan obat-obatan yang belum bisa diproduksi,” kata Dante.

Selain membenahi fasilitas dan kapasitas produksi, pemerintah juga membuka pintu bagi dokter asing untuk berpraktik di area KEK. Kebijakan ini diambil demi mendorong alih teknologi dan ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) kepada para dokter spesialis lokal.

Lewat kolaborasi tersebut, pemerintah berharap kualitas dan kemampuan tenaga medis nasional dapat terus meningkat,hingga mampu memberikan pelayanan medis terbaik kelas dunia secara mandiri.

"Transfer of knowledge dari dokter-dokter asing itu bisa pindah ke dokter-dokter kita sehingga nantinya dokter kita bisa mandiri melakukan pelayanan sama seperti pelayanan yang bertaraf internasional," ujar Dante.

Belanja Masyarakat RI untuk Berobat ke Luar Negeri

Menko Airlangga Hartarto dalam konferensi pers Rakernas KEK Triwulan III 2026 di Jakarta, Rabu (21/10/2026). (Liputan6.com/Immanuel C)

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto memperkirakan belanja masyarakat Indonesia untuk berobat ke luar negeri mencapai Rp 150 triliun. Pemerintah terus mendorong pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan guna menahan aliran belanja tersebut sekaligus memperkuat industri kesehatan nasional.

Airlangga menyampaikan bahwa KEK Kesehatan di Bali, wilayah sekitar Jakarta, dan Batam berpotensi menggantikan layanan kesehatan yang selama ini dicari masyarakat Indonesia di luar negeri.

"Ini punya potensi untuk substitusi kepada orang Indonesia yang berobat di luar negeri, spending-nya sekitar Rp 150 triliun, dan ini yang bisa kita substitusi dengan KEK," ujar Airlangga dalam konferensi pers Rakernas KEK Triwulan III 2026 di Gedung A.A. Maramis, Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Ia menambahkan, pengembangan KEK juga dapat memperluas sumber pertumbuhan ekonomi nasional. Hingga saat ini, sebanyak 25 KEK berhasil mencatatkan investasi kumulatif mencapai Rp 382,1 triliun serta menyerap sekitar 302.000 tenaga kerja.

"Ke depan kita terus mendorong bahwa KEK ini akan terus ditingkatkan," tegas Airlangga.

Menurutnya, peningkatan efisiensi di KEK dan kawasan industri dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi. Airlangga menilai target pertumbuhan ekonomi 7,5% dapat dicapai apabila investasi berada di kisaran 30% dari Produk Domestik Bruto (PDB) serta rasio Incremental Capital Output Ratio (ICOR) dapat ditekan ke level sekitar 4.

Selain sektor kesehatan, Airlangga menilai sektor pariwisata berpotensi menjadi penyumbang devisa yang besar bagi negara. Ia memperkirakan devisa dari sektor pariwisata mampu mencapai sekitar US$ 25 miliar, nilai yang hampir setara dengan total tiga komoditas ekspor unggulan Indonesia.

"Dari pariwisata pendapatan dan devisanya sekitar US$ 25 miliar, itu hampir setara dengan top 3 ekspor kita, yaitu nikel, batu bara, dan kelapa sawit," pungkas Airlangga.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

0
0

Disclaimer: Konten pada artikel ini hanya merefleksikan opini penulis dan tidak mewakili platform ini dengan kapasitas apa pun. Artikel ini tidak dimaksudkan sebagai referensi untuk membuat keputusan investasi.

PoolX: Raih Token Baru
APR hingga 12%. Selalu aktif, selalu dapat airdrop.
Kunci sekarang!