Bitget App
Trading lebih cerdas
Beli kriptoPasarTradingFuturesStocksEarnInstitusiAI & Lainnya
Misi Baru Prabowo di Sektor Keuangan: Dari Punya Rekening Menuju Kesejahteraan

Misi Baru Prabowo di Sektor Keuangan: Dari Punya Rekening Menuju Kesejahteraan

Liputan6Liputan62026/10/23 03:18
Oleh:Liputan6
Presiden Prabowo Subianto

Liputan6.com, Jakarta -
Presiden Prabowo Subianto mulai menggeser arah kebijakan keuangan nasional. Pemerintah tidak lagi hanya berfokus memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan, tetapi juga ingin memastikan manfaatnya dirasakan langsung oleh keluarga Indonesia.

Arah baru tersebut ditandai dengan peluncuran Dewan Nasional Kesejahteraan Keuangan (DNKK) dalam Rapat Koordinasi Nasional Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (Rakornas TPAKD) di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (22/10/2026).

DNKK merupakan transformasi dari Dewan Nasional Keuangan Inklusif (DNKI). Perubahan ini menempatkan kesejahteraan finansial keluarga sebagai tujuan yang lebih luas daripada sekadar kepemilikan rekening.

Dalam sambutannya, Prabowo menegaskan bahwa kesejahteraan masyarakat menjadi tujuan utama pemerintah.

“Tujuan kita, rakyat kita sejahtera. Saya mau jadi presiden untuk lihat rakyat saya sejahtera,” ujar Prabowo.

Pernyataan tersebut menjadi penegasan arah kebijakan yang ingin ditempuh pemerintah. Akses keuangan diharapkan dapat membantu masyarakat mengembangkan usaha, mengelola pendapatan, dan memenuhi kebutuhan keluarga.

Namun, perubahan orientasi ini juga membawa tantangan: bagaimana memastikan layanan keuangan benar-benar memperbaiki kondisi rumah tangga, bukan sekadar meningkatkan angka penggunaan produk keuangan.

 

 

Kesenjangan Literasi Jadi Pekerjaan Rumah

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara Rakornas TPKAD, di Jiexpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (22/10/2026). (Foto: Liputan6.com/Tira Santia)

Perubahan kebijakan tersebut menjadi relevan ketika akses keuangan masyarakat semakin luas, tetapi pemahaman terhadap produk keuangan belum merata.

Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang dirilis OJK, LPS, dan BPS mencatat indeks inklusi keuangan mencapai 93,61 persen. Sementara itu, indeks literasi keuangan berada di 69,57 persen. Selisih keduanya mencapai 24,04 poin persentase.

Artinya, jangkauan layanan keuangan lebih luas dibandingkan tingkat pemahaman masyarakat terhadap layanan tersebut.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan, perubahan dari DNKI menjadi DNKK menandai pergeseran fokus pemerintah.

“Kalau Dewan Nasional Keuangan Inklusif hanya inclusivity, Pak, hanya keterlibatan masyarakat mempunyai rekening. Tetapi Bapak Presiden sudah merubah orientasinya menjadi kesejahteraan keuangan keluarga, Pak,” kata Airlangga.

Ia juga menekankan pentingnya keluarga dalam kebijakan tersebut.

“Jadi kalau kita bicara ekonomi makro, yang diluncurkan Pak Presiden di sini adalah keluarga per keluarga. Ekonomi terkecil di masyarakat kita adalah ekonomi keluarga,” ujarnya.

Data SNLIK memperlihatkan tantangan yang masih perlu dijawab, terutama di wilayah perdesaan dan kelompok pekerjaan tertentu. Karena itu, edukasi keuangan perlu berjalan seiring dengan perluasan akses.

 

OJK Dorong Akses Keuangan Berdampak bagi Daerah

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi dalam Rakornas TPAKD 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (22/10/2026).

Perluasan akses keuangan menjadi salah satu jalur untuk mendukung ekonomi daerah. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong peran Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) agar layanan keuangan dapat menjangkau masyarakat sekaligus mendukung kegiatan ekonomi produktif.

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menekankan pentingnya kerja sama antara pemerintah daerah dan regulator keuangan.

“Sinergi antara pemerintah daerah dan OJK adalah kunci untuk memperkuat stabilitas keuangan, mendukung UMKM, dan meningkatkan literasi serta inklusi keuangan di seluruh daerah,” kata Friderica dalam keterangan resmi OJK mengenai TPAKD.

Saat ini, terdapat 552 TPAKD di tingkat provinsi, kabupaten, dan kota. Jaringan tersebut menjadi salah satu sarana untuk menghubungkan masyarakat dengan layanan keuangan sesuai kebutuhan daerah.

Di sisi lain, Prabowo menargetkan penyaluran kredit rakyat sebesar Rp 400 triliun pada 2027. Pembiayaan ini diarahkan kepada petani, nelayan, masyarakat perdesaan, daerah terpencil dan tertinggal, serta kelompok berpenghasilan rendah di perkotaan.

Meski demikian, manfaat pembiayaan tidak hanya ditentukan oleh besarnya dana yang disalurkan. Ketepatan sasaran, kemampuan membayar, dan penggunaan pinjaman untuk kegiatan produktif juga menentukan dampaknya terhadap kesejahteraan keluarga.

 

Tantangan Mengukur Kesejahteraan Keluarga

Dengan perubahan orientasi tersebut, tantangan utama DNKK adalah memastikan kesejahteraan finansial menjadi hasil nyata, bukan sekadar sasaran kebijakan.

Keberhasilan program perlu diukur lebih luas daripada jumlah rekening, pengguna layanan keuangan, atau kredit yang disalurkan. Pemerintah juga perlu melihat kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan rutin, menyiapkan dana darurat, mengelola utang, serta mempertahankan pendapatan ketika menghadapi tekanan ekonomi.

Kebutuhan setiap kelompok masyarakat pun berbeda. Keluarga perkotaan menghadapi struktur pengeluaran yang tidak sama dengan rumah tangga petani atau nelayan yang pendapatannya bergantung pada musim.

Karena itu, edukasi keuangan perlu membantu masyarakat menyusun anggaran, memahami biaya pinjaman, mengenali risiko investasi, dan menghindari tawaran keuangan ilegal.

Koordinasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan lembaga keuangan juga perlu disertai target terukur. Evaluasi harus menunjukkan apakah program benar-benar menjangkau kelompok yang membutuhkan dan memperbaiki kondisi keuangan mereka.

Pada akhirnya, keberhasilan DNKK akan terlihat ketika keluarga semakin mampu mengelola pendapatan, menghadapi pengeluaran tak terduga, dan meningkatkan kualitas hidup. Memiliki rekening atau memperoleh pinjaman merupakan langkah awal, tetapi kesejahteraan finansial tetap menjadi tujuan akhirnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

0
0

Disclaimer: Konten pada artikel ini hanya merefleksikan opini penulis dan tidak mewakili platform ini dengan kapasitas apa pun. Artikel ini tidak dimaksudkan sebagai referensi untuk membuat keputusan investasi.

PoolX: Raih Token Baru
APR hingga 12%. Selalu aktif, selalu dapat airdrop.
Kunci sekarang!