Bitget App
Trading lebih cerdas
Beli kriptoPasarTradingFuturesStocksEarnInstitusiAI & Lainnya
Rupiah Sentuh 18.000, Seberapa Kuat Amunisi BI Jaga Kurs? Ini Kata Ekonom

Rupiah Sentuh 18.000, Seberapa Kuat Amunisi BI Jaga Kurs? Ini Kata Ekonom

Liputan6Liputan62026/10/21 02:06
Oleh:Liputan6
Karyawan menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Jakarta. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta -
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tertekan setelah penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International ( MSCI) mengusulkan penurunan status pasar saham Indonesia. Pertanyaannya, seberapa kuat amunisi Bank Indonesia (BI) untuk menahan gejolak ini?

Ekonom Institute for Economic and Social Research Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) Teuku Riefky menyebut rupiah terdepresiasi 8,30% sejak awal tahun hingga 16 Oktober 2026.

Mata uang Garuda Indonesia sebagai salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di antara negara berkembang karena hanya Lira Turki yang melemah lebih dalam. Kurs rupiah tercatat Rp 17.895 per dolar AS pada 14 Oktober, dan kini mendekati Rp 18.000.

Sementara itu, Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mencatat tekanan juga terlihat di pasar obligasi. Imbal hasil (yield) SBN tenor 10 tahun naik menjadi sekitar 7,44% pada 20 Oktober 2026.

Meski demikian, ia mengingatkan tidak semua aset Indonesia ditinggalkan.

"Tekanan kepercayaan terutama masih terkonsentrasi pada pasar saham," kata Josua.

Ia memaparkan, hingga 20 Oktober, investor asing jual bersih saham sekitar US$ 5,28 miliar atau Rp 95 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah 18.000), tetapi SBN masih mencatat aliran masuk US$ 2,37 miliar atau Rp 42,6 triliun dan SRBI sekitar US$ 10,33 miliar atau Rp 185,9 triliun.

Laporan LPEM FEB UI juga menunjukkan gambaran serupa. Pada pertengahan September hingga pertengahan Oktober, arus masuk ke obligasi US$ 690 juta atau Rp 12,4 triliun, diimbangi arus keluar US$ 730 juta atau Rp 13,1 triliun dari saham.

 

Cadangan Devisa Memadai

Karyawan menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Jakarta . (Liputan6.com/Johan Tallo)

Kedua ekonom berbeda penekanan soal cadangan devisa. Riefky menyoroti sisi kecukupan, yakni cadangan sebesar US$ 146,3 miliar atau Rp 2.633 triliun pada September 2026.

"Cadangan devisa tetap memadai, yaitu setara dengan 5,3 bulan impor," tulis laporan itu, jauh di atas standar internasional sekitar tiga bulan impor.

Josua melihat sisi kecepatan penurunan. Cadangan devisa turun dari sekitar US$ 156,5 miliar atau Rp 2.816 triliun pada akhir 2025, yang menurut dia masih memadai meski penggunaannya harus terukur.

"Cadangan tersebut masih memadai, tetapi penggunaannya harus terukur karena tekanan eksternal dapat berlangsung hingga tahun depan," ujarnya.

"BI kemungkinan perlu mengombinasikan intervensi pasar valuta asing, optimalisasi instrumen moneter, serta penyesuaian suku bunga," ia menambahkan.

Sedangkan, menurut LPEM FEB UI, BI akan tetap memprioritaskan stabilisasi rupiah lewat intervensi valuta asing.

Keduanya sepakat suku bunga bukan solusi tunggal. Josua menegaskan kenaikan BI Rate tidak menyelesaikan akar persoalan MSCI, yakni transparansi dan integritas pasar modal.

Laporan LPEM FEB UI menekankan reformasi pasar modal dan koordinasi kebijakan. "Koordinasi yang konsisten antara otoritas moneter dan fiskal… akan menjadi kunci," tulis mereka.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

0
0

Disclaimer: Konten pada artikel ini hanya merefleksikan opini penulis dan tidak mewakili platform ini dengan kapasitas apa pun. Artikel ini tidak dimaksudkan sebagai referensi untuk membuat keputusan investasi.

PoolX: Raih Token Baru
APR hingga 12%. Selalu aktif, selalu dapat airdrop.
Kunci sekarang!