Mengutip laman resmi Logam Mulia, penurunan juga terjadi pada harga jual kembali atau buyback emas Antam. Harga buyback turun Rp 13.000 menjadi Rp 2.370.000 per gram.
Harga buyback merupakan nilai yang diterima pemilik emas ketika menjual kembali emas batangan kepada Antam. Sementara itu, harga emas yang tercantum pada awal perdagangan merupakan harga jual kepada konsumen.
Advertisement
Pergerakan harga emas Antam dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti dinamika harga emas dunia dan kondisi pasar.
Sebagai catatan, harga emas Antam pernah mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada Kamis (29/1/2026), yakni Rp 3.168.000 per gram. Pada periode tersebut, harga buyback juga sempat mencapai Rp 2.989.000 per gram.
Berikut daftar harga emas batangan Antam berdasarkan beratnya:
- 0,5 gram: Rp 1.330.500
- 1 gram: Rp 2.561.000
- 2 gram: Rp 5.072.000
- 3 gram: Rp 7.590.000
- 5 gram: Rp 12.620.000
- 10 gram: Rp 25.160.000
- 25 gram: Rp 62.735.000
- 50 gram: Rp 125.305.000
- 100 gram: Rp 250.460.000
- 250 gram: Rp 625.840.000
- 500 gram: Rp 1.251.400.000
- 1.000 gram: Rp 2.501.600.000.
Harga Emas Dunia Anjlok
Harga emas dunia turun lebih dari 1% pada perdagangan Rabu, memperpanjang pelemahan selama tiga sesi berturut-turut. Penurunan ini terjadi setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih tinggi dari perkiraan meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), pada Oktober.
Mengutip CNBC, Kamis (15/10/2026), harga emas di pasar spot merosot 1,5% menjadi US$ 4.093,03 per ons, sekaligus menyentuh level terendah sejak 7 Oktober. Sementara itu, harga emas berjangka AS untuk pengiriman Desember turun 1,5% menjadi US$ 4.115,50 per ons.
Indeks dolar AS menguat 0,4%. Kondisi ini membuat emas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun juga meningkat, menambah tekanan terhadap harga emas.
Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger, mengatakan data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan memperbesar kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga.
“Pada titik ini, hal tersebut mengindikasikan bahwa The Fed lebih mungkin menaikkan suku bunga,” kata Meger, merujuk pada data indeks harga konsumen (CPI) yang masih berada di atas target The Fed.
Advertisement
Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed
Meger menambahkan, penguatan dolar AS turut memberikan tekanan terhadap pasar emas.
“Akibatnya, kita melihat dolar menguat dan tekanan terhadap pasar emas semakin besar,” ujarnya.
Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan indeks harga konsumen (CPI) naik 0,6% pada bulan sebelumnya, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,4% pada Agustus.
Berdasarkan perangkat FedWatch milik CME, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober mencapai sekitar 35%, meningkat dari 22% sebelum data inflasi dirilis. Sementara itu, probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember diperkirakan sekitar 90%.
Emas biasanya dipandang sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi. Namun, kenaikan suku bunga cenderung mengurangi daya tarik emas karena logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil bunga.
Wakil Ketua The Fed untuk Pengawasan, Michelle Bowman, mengatakan bank sentral AS masih memiliki waktu untuk mengamati perkembangan pasar keuangan dan perekonomian setelah menaikkan suku bunga pada September, sebelum memutuskan langkah berikutnya.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

