Dikutip dari Moneycontrol, Jumat (9/10/2026), titik balik hidup Kamath bermula saat ia berusia 17 tahun. Tanpa kantongi ijazah pendidikan tinggi, ia nekat bekerja di call center shift malam dengan gaji hanya 8.000 rupee (sekitar Rp 1,5 juta) per bulan. Di saat orang lain memanfaatkan siang hari untuk istirahat, Kamath justru menyita waktu tidurnya demi mengulik dan belajar pasar saham secara otodidak.
Kejelian Kamath mengolah angka di pasar saham tak cuma membuahkan hasil bagi kantong pribadinya. Rekan-rekan kerjanya yang kagum mulai memercayakan uang tabungan mereka untuk dikelola oleh Kamath. Mengantongi kepercayaan besar itu, Kamath mantap resign dari call center dan memilih terjun penuh sebagai trader profesional.
Advertisement
Dikutip dari Medium, pengalaman bertahun-tahun di pasar finansial menyadarkan Kamath betapa rumitnya akses investasi bagi masyarakat kecil di India, terutama akibat tingginya biaya komisi broker. Melihat celah tersebut, Kamath bersama sang kakak, Nithin Kamath, memberanikan diri mendirikan platform investasi bernama Zerodha pada tahun 2010.
Langkah Nekat Nikhil Kamath
Langkah mereka terbilang nekat. Di saat startup lain gencar membakar uang dan berburu suntikan modal dari investor asing, Kamath bersaudara justru memilih jalur bootstrapping alias modal sendiri. Mereka memangkas biaya operasional setipis mungkin dan menawarkan tarif komisi yang sangat murah serta transparan bagi investor ritel.
Keputusan mandiri tanpa belas kasihan dana investor membuat mereka leluasa mengambil keputusan bisnis jangka panjang. Fokus utama Kamath hanya satu, yaitu menciptakan platform yang efisien, jujur, dan mudah digunakan oleh siapa saja.
Hasilnya luar biasa. Zerodha meroket menjadi broker ritel terbesar di India yang mengubah peta investasi digital di negara tersebut. Berdasarkan data Forbes, keberhasilan ini melambungkan kekayaan bersih Nikhil Kamath hingga menyentuh US$ 3,3 miliar atau sekitar Rp 59 triliun (kurs Rp 17.923 per US$).
Kisah Kamath menyentuh dan membuktikan satu hal, kegagalan di jalur pendidikan formal bukanlah penentu masa depan, melainkan keberanian untuk terus belajar dan konsisten mengejar impian.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement

