Bitget App
Trading lebih cerdas
Beli kriptoPasarTradingFuturesEarnAIWawasanSelengkapnya
SahamGold/IndicesInsight Pasar
Jackson Hole Berubah Hawkish: The Fed Menetapkan Ulang Ambang Kebijakannya—Bagaimana Pasar Dapat Memperdagangkan Suku Bunga yang “Lebih Tinggi untuk Waktu Lebih Lama”?
Jackson Hole Berubah Hawkish: The Fed Menetapkan Ulang Ambang Kebijakannya—Bagaimana Pasar Dapat Memperdagangkan Suku Bunga yang “Lebih Tinggi untuk Waktu Lebih Lama”?

Jackson Hole Berubah Hawkish: The Fed Menetapkan Ulang Ambang Kebijakannya—Bagaimana Pasar Dapat Memperdagangkan Suku Bunga yang “Lebih Tinggi untuk Waktu Lebih Lama”?

Menengah
2026-08-31 | 5m
Bitget menyediakan perdagangan terpadu untuk mata uang kripto, saham, dan emas. Trading sekarang!
Paket sambutan senilai 6200 USDT untuk pengguna baru! Daftar sekarang!

Dalam Simposium Ekonomi Jackson Hole tahun ini, Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menyampaikan pidato utama pertamanya dan memberikan pesan yang lebih hawkish daripada perkiraan pasar. Meski tidak secara eksplisit berkomitmen menaikkan suku bunga pada September dan sengaja tidak memberikan panduan tegas mengenai arah kebijakan mendatang, pesan utamanya sangat jelas: selama The Fed belum yakin bahwa inflasi kembali ke 2% “secara jelas dan dengan laju yang memadai”, kenaikan suku bunga lebih lanjut tetap menjadi opsi.

Pasar tidak sekadar memperhitungkan apakah The Fed akan menaikkan suku bunga dalam satu pertemuan. Pasar sedang menilai ulang pertanyaan yang lebih mendasar: apakah suku bunga AS akan tetap tinggi untuk waktu lebih lama—dan mungkinkah perlu dinaikkan lebih tinggi lagi?

Pertanyaan tersebut berdampak langsung terhadap dolar AS, imbal hasil Treasury, emas, saham teknologi, dan indeks saham AS. Hal ini juga menciptakan tema trading yang lebih jelas, meski lebih sensitif terhadap risiko, bagi trader CFD.

1. Pesan Utama Warsh: Inflasi Belum Dikalahkan dan The Fed Tidak Terburu-buru Melonggarkan Kebijakan

Kesimpulan utama dari pidato Warsh bukan sekadar bahwa “inflasi tetap tinggi”. Yang lebih penting, penilaiannya terhadap struktur dasar inflasi menunjukkan kehati-hatian yang nyata.

Inflasi PCE utama AS tercatat sebesar 3,7% secara tahunan pada Juli, sedangkan kenaikan tahunan selama enam bulan terakhir mencapai 4,1%—jauh di atas target jangka panjang The Fed sebesar 2%. Yang lebih penting, Warsh tidak hanya berfokus pada inflasi agregat. Ia juga mengkaji komposisi yang mendasari kenaikan harga:

-Selama 12 bulan terakhir, sekitar 54% komponen PCE naik lebih dari 3%;

-Selama enam bulan terakhir, sekitar 49% komponen masih mencatat kenaikan harga tahunan di atas 3%;

-Sebelum pandemi, rata-rata selama 20 tahun hanya sekitar 32%.

Hal ini menunjukkan bahwa inflasi tidak hanya didorong oleh sejumlah kecil kategori energi, pangan, atau layanan tertentu. Sebaliknya, tekanan harga masih relatif meluas.

Bagi The Fed, inflasi sementara yang didorong oleh pasokan mungkin perlu disikapi dengan sabar. Namun, ketika tekanan harga tersebar di lebih banyak barang dan jasa, hal ini menunjukkan bahwa inflasi dasar mungkin lebih persisten daripada yang tercermin dalam angka utama. Sikap Warsh menunjukkan bahwa The Fed tidak bersedia menyatakan kemenangan atas inflasi hanya karena data CPI atau PCE selama beberapa bulan sedikit lebih baik daripada perkiraan.

Dengan kata lain, logika pasar sebelumnya, yaitu “inflasi turun → The Fed beralih ke pemangkasan suku bunga”, mungkin perlu diubah menjadi:

Penurunan inflasi saja tidak cukup. The Fed perlu melihat inflasi kembali ke 2% secara berkelanjutan, meluas, dan meyakinkan.

2. Prospek Suku Bunga: The Fed Memprioritaskan Pengendalian Inflasi daripada Dukungan terhadap Pertumbuhan

The Fed memiliki mandat ganda untuk menjaga stabilitas harga dan mencapai tingkat lapangan kerja maksimum. Namun, Warsh menegaskan bahwa dalam kondisi saat ini, risiko inflasi harus diprioritaskan dibandingkan risiko ketenagakerjaan.

Alasannya jelas: perekonomian AS belum menunjukkan tanda-tanda yang mengharuskan The Fed segera beralih ke pelonggaran moneter.

Pasar Tenaga Kerja Tetap Tangguh

Tingkat pengangguran AS saat ini berada di kisaran 4,1% dan masih relatif rendah, sedangkan moving average empat minggu untuk klaim awal tunjangan pengangguran tetap mendekati level terendah jangka panjang. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan belum mulai melakukan PHK besar-besaran dan pasar tenaga kerja masih mendekati kondisi lapangan kerja penuh.

Jika tingkat pengangguran melonjak tajam dan kondisi ketenagakerjaan memburuk secara signifikan, The Fed tentu akan lebih mencemaskan risiko terhadap pertumbuhan dan ketenagakerjaan. Namun, dengan kondisi data saat ini, Warsh tampaknya meyakini bahwa The Fed belum perlu segera beralih ke pemangkasan suku bunga demi melindungi perekonomian.

Pertumbuhan Ekonomi dan Investasi Perusahaan Tetap Kuat

Investasi pada peralatan dan aset tidak berwujud terus berkembang, dengan belanja modal terkait AI menjadi pendorong yang makin penting. Laba perusahaan SP 500 telah tumbuh lebih dari 20%, sedangkan margin profit perusahaan tetap relatif tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa suku bunga tinggi belum membatasi aktivitas perusahaan secara luas.

Dari perspektif kebijakan moneter, jika laba perusahaan, investasi, lapangan kerja, dan konsumsi belum melemah secara signifikan, The Fed akan sulit menyimpulkan bahwa kondisi keuangan sudah cukup restriktif.

Kondisi Keuangan Mungkin Tidak Seketat yang Ditunjukkan Suku Bunga Kebijakan

Warsh secara khusus menyatakan bahwa pasar kredit dan pinjaman saat ini tidak menunjukkan bahwa suku bunga kebijakan menimbulkan tekanan luas terhadap perekonomian. Hal ini sangat penting karena menyiratkan bahwa The Fed tidak hanya memperhatikan suku bunga kebijakan, tetapi juga kondisi keuangan secara keseluruhan, termasuk:

-Apakah pasar saham tetap tinggi;

-Apakah spread kredit perusahaan tetap sempit;

-Apakah pasar kredit terus berfungsi dengan lancar;

-Apakah pinjaman hipotek, pinjaman perusahaan, dan kredit konsumen benar-benar dibatasi;

-Apakah harga aset masih menghasilkan efek kekayaan bagi perekonomian.

Jika saham tetap kuat, spread kredit tetap sempit, dan pembiayaan perusahaan masih mudah diperoleh, The Fed mungkin menyimpulkan bahwa kebijakannya belum cukup restriktif—meskipun suku bunga kebijakan sudah berada dalam rentang 3,50% hingga 3,75%.

Pandangan Warsh mengenai suku bunga dapat dirangkum dalam satu kalimat:

Selama perekonomian tidak melambat secara signifikan, pasar tenaga kerja tidak melemah secara nyata, dan inflasi tidak kembali ke 2% secara meyakinkan, The Fed tidak memiliki banyak alasan untuk terburu-buru memangkas suku bunga—dan tidak dapat mengesampingkan kenaikan suku bunga lebih lanjut.

3. Bagaimana Pasar Harus Menyikapi Pertemuan September? Kenaikan Bukan Skenario Dasar, tetapi Menjadi Opsi Berprobabilitas Tinggi jika Dikonfirmasi Data

Jackson Hole Berubah Hawkish: The Fed Menetapkan Ulang Ambang Kebijakannya—Bagaimana Pasar Dapat Memperdagangkan Suku Bunga yang “Lebih Tinggi untuk Waktu Lebih Lama”? image 0

Meskipun Warsh menggunakan nada hawkish, ia tidak secara langsung mengumumkan kenaikan suku bunga pada September. Ia sengaja menekankan bahwa keputusan kebijakan akan bergantung pada perkembangan inflasi, ketenagakerjaan, rantai pasok, arus investasi, dan geopolitik mendatang.

Artinya, pasar tidak boleh menafsirkan pernyataannya sebagai “kenaikan pada September sudah pasti”. Sebaliknya, pasar perlu memahami bahwa The Fed telah menetapkan fungsi reaksi yang lebih hawkish.

Menjelang pertemuan FOMC pada 15–16 September, pasar akan mencermati beberapa rilis data utama:

1.CPI dan CPI Inti: Apakah inflasi jasa, biaya sewa, layanan kesehatan, dan komponen terkait upah kembali meningkat.

2. PPI dan PPI Inti: Input penting untuk memperkirakan komponen PCE terkait.

3. Laporan Ketenagakerjaan: Nonfarm payroll, tingkat pengangguran, pendapatan rata-rata per jam, dan tingkat partisipasi angkatan kerja.

4. Penjualan Ritel dan Data Konsumsi: Apakah suku bunga tinggi benar-benar menekan permintaan.

5. Ekspektasi Inflasi dan Pergerakan Imbal Hasil Treasury: Apakah pasar menuntut kompensasi lebih besar atas inflasi dan risiko premi berjangka.

Futures suku bunga saat ini memperhitungkan probabilitas kenaikan pada September sekitar 60%, yang mencerminkan menguatnya spekulasi pasar terhadap pengetatan baru oleh The Fed. Namun, hal ini tidak menunjukkan satu arah yang telah ditentukan sebelumnya. Sebaliknya, pasar sedang memperhitungkan berbagai kemungkinan hasil berdasarkan data yang masuk.

Skenario 1: Inflasi Kuat dan Ketenagakerjaan Stabil

Jika inflasi inti melampaui perkiraan, harga jasa tetap sulit turun, dan pasar tenaga kerja tidak memburuk secara signifikan, probabilitas kenaikan pada September kemungkinan akan meningkat lebih lanjut.

Skenario ini paling sesuai dengan logika Warsh: inflasi belum cukup mereda, sedangkan perekonomian belum cukup melemah untuk mencegah tindakan lebih lanjut.

Potensi reaksi pasar meliputi:

-Imbal hasil Treasury 2 tahun yang lebih tinggi;

-Dolar AS yang lebih kuat;

-Tekanan terhadap emas;

-Peningkatan volatilitas saham teknologi bervaluasi tinggi;

-Tekanan jangka pendek terhadap indeks saham AS, terutama Nasdaq 100.

Skenario 2: Inflasi Mereda, tetapi Tidak Cukup Cepat

Jika CPI dan PCE terus menurun, tetapi laju perbaikannya lambat dan kenaikan inflasi masih meluas, The Fed mungkin tidak segera menaikkan suku bunga. Namun, The Fed juga kemungkinan tidak akan memberikan sinyal dovish.

Skenario ini kemungkinan besar akan memperkuat kondisi “lebih tinggi untuk waktu lebih lama”: suku bunga tetap tinggi untuk jangka waktu lebih lama, sedangkan ekspektasi pemangkasan di masa mendatang ditunda lebih jauh.

Pasar dapat mengalami volatilitas suku bunga yang tinggi, dolar AS yang relatif kuat, trading emas dalam rentang tertentu, serta pergeseran pasar saham dari ekspansi valuasi menuju kinerja yang didorong oleh laba dan fundamental.

Skenario 3: Inflasi Mereda dengan Jelas Sementara Ketenagakerjaan Melemah

Jika data inflasi membaik secara signifikan sementara nonfarm payroll jauh di bawah ekspektasi dan pengangguran meningkat, keseimbangan kebijakan The Fed dapat kembali bergeser ke kekhawatiran terhadap pertumbuhan dan ketenagakerjaan.

Dalam kondisi tersebut, ekspektasi kenaikan pada September kemungkinan akan turun dengan cepat. Pasar dapat mulai menilai ulang pemangkasan suku bunga mendatang, imbal hasil Treasury dapat turun, dolar AS dapat melemah, serta emas dan saham pertumbuhan dapat diuntungkan.

4. Kurva Imbal Hasil Menjadi Kunci Trading Tema Suku Bunga: Pantau Imbal Hasil 2 Tahun Terlebih Dahulu, lalu Imbal Hasil 10 Tahun

Setelah pidato Warsh, imbal hasil Treasury 2 tahun sempat naik menjadi 4,34%, imbal hasil 10 tahun mencapai sekitar 4,72%, dan imbal hasil 30 tahun naik menjadi sekitar 5,21%. Hal ini menunjukkan bahwa pasar tidak hanya merevisi ekspektasi suku bunga kebijakan jangka pendek, tetapi juga menilai ulang risiko inflasi jangka panjang dan premi berjangka.

Jackson Hole Berubah Hawkish: The Fed Menetapkan Ulang Ambang Kebijakannya—Bagaimana Pasar Dapat Memperdagangkan Suku Bunga yang “Lebih Tinggi untuk Waktu Lebih Lama”? image 1

Jackson Hole Berubah Hawkish: The Fed Menetapkan Ulang Ambang Kebijakannya—Bagaimana Pasar Dapat Memperdagangkan Suku Bunga yang “Lebih Tinggi untuk Waktu Lebih Lama”? image 2

Jackson Hole Berubah Hawkish: The Fed Menetapkan Ulang Ambang Kebijakannya—Bagaimana Pasar Dapat Memperdagangkan Suku Bunga yang “Lebih Tinggi untuk Waktu Lebih Lama”? image 3

Bagi trader, penting untuk membedakan antara kenaikan imbal hasil jangka pendek dan jangka panjang.

Kenaikan Imbal Hasil Jangka Pendek: Memperdagangkan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed

Imbal hasil Treasury 2 tahun umumnya lebih sensitif terhadap ekspektasi suku bunga kebijakan The Fed. Ketika pasar meyakini bahwa The Fed lebih mungkin menaikkan suku bunga—atau bahwa pemangkasan suku bunga akan ditunda—imbal hasil 2 tahun sering kali naik lebih dahulu.

Jika imbal hasil 2 tahun terus meningkat, hal tersebut biasanya menunjukkan bahwa pasar memperkuat posisi berdasarkan ekspektasi “The Fed yang lebih hawkish”:

-Mendukung dolar AS;

-Negatif bagi aset tanpa imbal hasil seperti emas;

-Kurang menguntungkan bagi saham teknologi dengan rasio P/E tinggi;

-Berpotensi negatif bagi Nasdaq 100 dan indeks saham berorientasi pertumbuhan lainnya.

Kenaikan Imbal Hasil Jangka Panjang: Memperdagangkan Inflasi, Risiko Fiskal, dan Premi Berjangka

Imbal hasil 10 tahun dan 30 tahun yang lebih tinggi tidak selalu berarti The Fed akan segera menaikkan suku bunga. Kenaikan tersebut juga dapat mencerminkan:

-Meningkatnya ekspektasi inflasi jangka panjang;

-Defisit fiskal AS dan peningkatan pinjaman pemerintah;

-Tuntutan premi berjangka yang lebih tinggi dari investor;

-Ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang tetap kuat;

-Perubahan permintaan asing terhadap Treasury AS.

Ketika imbal hasil jangka pendek dan jangka panjang naik bersamaan, pasar umumnya menafsirkan kondisi tersebut sebagai hawkish, inflasioner, dan mendukung dolar AS. Namun, jika imbal hasil jangka panjang naik jauh lebih cepat daripada imbal hasil jangka pendek, trader harus mewaspadai pengetatan kondisi keuangan secara tiba-tiba yang dapat memberikan tekanan lebih besar terhadap valuasi saham.

5. Cara Berpartisipasi dalam Tema Suku Bunga: Trading Emas, Dolar, dan Indeks Saham AS

Bagi trader CFD, keputusan suku bunga bukan satu-satunya instrumen yang dapat diperdagangkan. Namun, ekspektasi suku bunga dengan cepat memengaruhi emas, dolar AS, indeks saham, dan sektor yang sensitif terhadap suku bunga.

CFD Emas: Fokus pada Imbal Hasil Riil dan Dolar AS, Bukan Hanya Berita Utama tentang Kenaikan Suku Bunga

Emas biasanya tidak menghasilkan pendapatan bunga. Oleh karena itu, ketika imbal hasil Treasury dan dolar AS naik bersamaan, emas sering mengalami tekanan. Secara khusus, kenaikan imbal hasil riil meningkatkan biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil, yang cenderung membebani harga emas.

Jackson Hole Berubah Hawkish: The Fed Menetapkan Ulang Ambang Kebijakannya—Bagaimana Pasar Dapat Memperdagangkan Suku Bunga yang “Lebih Tinggi untuk Waktu Lebih Lama”? image 4

Dengan sikap Warsh yang makin hawkish dan meningkatnya probabilitas kenaikan suku bunga pada September, emas mungkin menghadapi tekanan jual dalam waktu dekat. Namun, trader tidak boleh menganggap bahwa “kenaikan suku bunga otomatis membuat emas pasti turun” karena emas juga dipengaruhi oleh:

-Risiko geopolitik;

-Kekhawatiran terhadap fiskal dan utang AS;

-Volatilitas imbal hasil jangka panjang;

-Penguatan atau pelemahan dolar AS;

-Pembelian emas oleh bank sentral;

-Permintaan aset safe haven.

Indikator utama yang perlu dipantau:

-Apakah imbal hasil Treasury 2 tahun terus mencetak level tertinggi baru;

-Apakah Indeks Dolar AS menembus level resistance utama;

-Apakah imbal hasil riil 10 tahun bergerak lebih tinggi;

-Apakah emas menembus ke bawah level support penting dan membentuk momentum jual yang berkelanjutan.

Jika data inflasi kuat, imbal hasil naik, dan dolar AS menguat secara bersamaan, emas mungkin tetap tertekan. Sebaliknya, jika data mengecewakan, imbal hasil menurun, atau permintaan aset safe haven meningkat, emas dapat pulih dengan cepat.

CFD Indeks Saham AS: Saham Teknologi Lebih Sensitif terhadap Suku Bunga

Dalam kondisi suku bunga tinggi, tidak semua saham akan turun. Namun, kinerja berbagai jenis indeks dapat berbeda secara signifikan.

Jackson Hole Berubah Hawkish: The Fed Menetapkan Ulang Ambang Kebijakannya—Bagaimana Pasar Dapat Memperdagangkan Suku Bunga yang “Lebih Tinggi untuk Waktu Lebih Lama”? image 5

Jackson Hole Berubah Hawkish: The Fed Menetapkan Ulang Ambang Kebijakannya—Bagaimana Pasar Dapat Memperdagangkan Suku Bunga yang “Lebih Tinggi untuk Waktu Lebih Lama”? image 6

Saham teknologi dan pertumbuhan, yang diwakili oleh Nasdaq 100, sangat sensitif terhadap kenaikan imbal hasil karena valuasinya lebih bergantung pada arus kas masa depan. Ketika imbal hasil jangka panjang meningkat, pasar menggunakan tingkat diskonto yang lebih tinggi untuk menilai laba masa depan sehingga dapat menekan rasio harga terhadap laba saham bervaluasi tinggi.

Oleh karena itu, jika pasar terus memperhitungkan pengetatan lebih lanjut oleh The Fed atau suku bunga tinggi untuk jangka waktu lebih lama:

-Nasdaq 100: Dapat menghadapi tekanan penyesuaian valuasi yang lebih besar;

-SP 500: Dapat ditopang oleh laba perusahaan yang tangguh, meskipun volatilitas keseluruhan mungkin meningkat;

-Dow Jones atau indeks berorientasi nilai: Dapat terbukti relatif lebih defensif, meskipun kinerjanya tetap bergantung pada sektor keuangan, industri, dan konsumen.

Meski demikian, belanja modal terkait AI dan pertumbuhan laba perusahaan tetap menjadi penopang penting bagi saham teknologi. Oleh karena itu, trader sebaiknya memandang kenaikan suku bunga sebagai sumber volatilitas, bukan sebagai satu-satunya alasan untuk mengambil posisi short satu arah tanpa mempertimbangkan faktor fundamental.

Trading Berbasis Peristiwa: Mengatur Posisi Menjelang Rilis Data

Trader yang ingin berpartisipasi dalam pergerakan pasar akibat perubahan suku bunga dapat berfokus pada peristiwa bervolatilitas tinggi seperti CPI, PPI, nonfarm payroll, dan pertemuan FOMC.

Kerangka trading yang umum mencakup:

-Mengurangi leverage menjelang rilis data utama untuk membatasi slippage dan risiko gap akibat satu data;

-Mengamati apakah imbal hasil Treasury, dolar AS, dan indeks saham bergerak searah setelah data dirilis;

-Tidak hanya memperhatikan angka utama, tetapi juga inflasi inti, upah, inflasi jasa, dan revisi data sebelumnya;

-Menunggu reaksi emosional pertama pasar sebelum menilai apakah pergerakan kemungkinan berlanjut atau berbalik arah.

Misalnya, jika CPI lebih tinggi daripada perkiraan, tetapi dolar AS gagal menguat dan imbal hasil tidak mampu mempertahankan kenaikannya, hal tersebut dapat menunjukkan bahwa berita bearish sudah diperhitungkan oleh pasar. Sebaliknya, jika data kuat memicu breakout yang jelas pada dolar AS, imbal hasil Treasury jangka pendek, dan Nasdaq 100, probabilitas berlanjutnya tren umumnya lebih tinggi.

Kesimpulan: Warsh Tidak Mengumumkan Kenaikan—Ia Meningkatkan Toleransi The Fed untuk Menaikkan Suku Bunga

Hal yang benar-benar diubah oleh pidato Warsh di Jackson Hole adalah pemahaman pasar mengenai fungsi reaksi The Fed.

Ia tidak menjanjikan kenaikan pada September ataupun memberikan proyeksi suku bunga terminal yang jelas. Namun, ia menegaskan bahwa The Fed tidak akan mengendurkan kewaspadaan hanya karena inflasi mereda sementara. Selama inflasi tidak turun cukup cepat atau tidak membaik secara cukup luas, sementara lapangan kerja dan aktivitas ekonomi tetap tangguh, suku bunga kebijakan dapat tetap tinggi untuk waktu lebih lama—dan masih dapat dinaikkan lebih lanjut.

Oleh karena itu, pertanyaan utama bagi trading di pasar bukan lagi sekadar, “Kapan The Fed akan memangkas suku bunga?” Pertanyaannya adalah:Akankah inflasi memungkinkan The Fed mengesampingkan kenaikan lebih lanjut? Berapa lama perekonomian dapat bertahan menghadapi suku bunga tinggi?

Bagi trader, hal ini berarti perlu mencermati PCE, CPI, data ketenagakerjaan, imbal hasil Treasury jangka pendek dan jangka panjang, Indeks Dolar AS, serta sensitivitas pasar saham terhadap perubahan suku bunga. Emas, indeks saham AS, dan aset terkait dolar AS dapat menjadi instrumen penting untuk berpartisipasi dalam penilaian ulang prospek suku bunga ini.

Untuk memanfaatkan peluang pasar yang muncul akibat perubahan kebijakan The Fed, data inflasi, dan volatilitas imbal hasil Treasury, pengguna dapat menjelajahi dan memperdagangkan berbagai instrumen—termasuk CFD emas dan CFD indeks saham—di Bitget , sehingga dapat berpartisipasi secara fleksibel di pasar yang naik maupun turun. Namun, CFD merupakan produk dengan leverage dan pergerakan harga dapat memperbesar profit maupun kerugian. Trader harus menetapkan rencana stop-loss yang sesuai, mengelola ukuran posisi secara cermat, serta memastikan bahwa mereka memahami dan mampu menanggung risiko terkait

Semua tutorial trading yang disediakan Bitget hanya ditujukan untuk tujuan edukasi dan tidak boleh dianggap sebagai nasihat keuangan. Strategi dan contoh yang dibagikan hanya untuk referensi dan mungkin tidak mencerminkan kondisi pasar sebenarnya. Trading CFD mengandung risiko yang signifikan, termasuk potensi kehilangan dana. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil pada masa mendatang. Lakukan riset menyeluruh dan pahami risiko yang terkait. Bitget tidak bertanggung jawab atas keputusan trading apa pun yang dibuat oleh pengguna.

Sekarang kamu sudah memahaminya, saatnya trading!
Bitget menyediakan perdagangan terpadu untuk mata uang kripto, saham, dan emas.
Trading sekarang!
Bagikan
link_icontwittertelegramredditfacebooklinkend
Isi
  • 1. Pesan Utama Warsh: Inflasi Belum Dikalahkan dan The Fed Tidak Terburu-buru Melonggarkan Kebijakan
  • 2. Prospek Suku Bunga: The Fed Memprioritaskan Pengendalian Inflasi daripada Dukungan terhadap Pertumbuhan
  • 3. Bagaimana Pasar Harus Menyikapi Pertemuan September? Kenaikan Bukan Skenario Dasar, tetapi Menjadi Opsi Berprobabilitas Tinggi jika Dikonfirmasi Data
  • 4. Kurva Imbal Hasil Menjadi Kunci Trading Tema Suku Bunga: Pantau Imbal Hasil 2 Tahun Terlebih Dahulu, lalu Imbal Hasil 10 Tahun
  • 5. Cara Berpartisipasi dalam Tema Suku Bunga: Trading Emas, Dolar, dan Indeks Saham AS
  • Kesimpulan: Warsh Tidak Mengumumkan Kenaikan—Ia Meningkatkan Toleransi The Fed untuk Menaikkan Suku Bunga
Cara menjual PIBitget listing PI - Beli atau jual PI dengan cepat di Bitget!
Trading sekarang
Kami menawarkan semua koin favorit kamu!
Beli, hold, dan jual mata uang kripto populer seperti BTC, ETH, SOL, DOGE, SHIB, PEPE, dan masih banyak lagi. Daftar dan lakukan trading untuk mendapatkan paket hadiah pengguna baru senilai 6200 USDT!
Trading sekarang
Hingga 6.200 USDT dan merchandise LALIGA menanti pengguna baru!
Klaim